Renungan Harian Katolik Senin 31 Agustus 2026, Jangan Biarkan Prasangka Menutup Mata Hati

Oleh : RP. John Lewar SVD

Biara Soverdi St. Josef Freinademetz

STM Nenuk Atambua Timor

Renungan Harian Katolik Hari Senin Biasa Pekan XXII, 31 Agustus 2026 dari RP. John Lewar SVD berjudul Jangan Biarkan Prasangka

Menutup Mata Hati.

Renungan Harian Katolik dari RP John Lewar SVD merujuk pada 1 Korintus 2:1-5; Mazmur 119:97.98.99.100.101.102;

Lukas 4:16-30. Warna Liturgi Hijau.

Saudari-saudaraku yang terkasih dalam Kristus,

Hari ini Injil Lukas membawa kita ke Nazaret, kampung halaman Yesus. Yesus datang ke rumah

ibadat dan membaca Kitab Suci.

Semua orang mendengarkan-Nya. Kata-kata-Nya penuh kuasa dan

menyentuh hati. Namun, kekaguman itu tidak berlangsung lama. Orang-orang mulai berkata:

“Bukankah Ia ini anak Yusuf?” Mereka mengenal Yesus. Mereka tahu keluarga-Nya. Mereka

mengetahui asal-usul-Nya. Tetapi justru karena merasa sudah mengenal Yesus, mereka tidak mampu

melihat siapa Yesus sebenarnya.

Mereka melihat Yesus dengan mata prasangka. Mereka tidak membuka hati untuk menerima kemungkinan bahwa Allah sedang bekerja melalui seseorang yang

tumbuh di tengah-tengah mereka.

Inilah bahaya prasangka. Prasangka membuat kita melihat seseorang bukan sebagaimana adanya,

tetapi sebagaimana yang sudah kita putuskan dalam pikiran kita.

Kita sering berkata: “Dia memang begitu.” “Orang itu tidak mungkin berubah.” “Saya sudah tahu karakternya.” “Jangan percaya

kepadanya.” Tanpa sadar, kita sudah menutup pintu hati sebelum benar-benar mendengarkan.

Situasi seperti ini sangat dekat dengan kehidupan kita saat ini. Di media sosial, seseorang dapat

langsung dinilai hanya berdasarkan satu foto, satu komentar, atau satu potongan video.

Orang begitu mudah memberi label tanpa mengetahui seluruh cerita. Di dalam keluarga, kadang-kadang kita terus

mengingat kesalahan masa lalu seseorang, sehingga sulit melihat perubahan yang sedang terjadi.

Di sekolah atau tempat kerja, seseorang bisa diremehkan karena latar belakang, penampilan, kemampuan, atau status sosialnya.

Di tengah masyarakat, kita mudah membagi orang menjadi kelompok “kami” dan “mereka”. Prasangka membuat kita kehilangan kemampuan untuk melihat manusia dengan hati.

Padahal setiap manusia mempunyai kesempatan untuk berubah.

Setiap orang mempunyai cerita. Setiap orang mempunyai luka yang mungkin tidak kita ketahui. Dan setiap orang tetap memiliki martabat

sebagai anak Allah.

Dalam bacaan pertama, Santo Paulus berkata bahwa ia tidak datang dengan kata-kata yang indah atau hikmat manusia. Ia tidak ingin orang terpukau oleh dirinya. Paulus hanya ingin menunjukkan Yesus Kristus.

Ini menjadi pengingat bagi kita bahwa iman tidak dibangun atas penampilan manusia, popularitas, kekuasaan, atau kepandaian berbicara. Iman dibangun atas kekuatan Allah. Kadang-

kadang kita terlalu mudah menilai seseorang dari apa yang terlihat di luar.

Kita kagum kepada orang yang terkenal. Kita mudah percaya kepada orang yang memiliki jabatan. Kita menghormati orang yang

pandai berbicara.

Tetapi kita meremehkan suara orang kecil dan sederhana. Padahal Tuhan sering memilih jalan yang tidak kita duga. Tuhan dapat berbicara melalui seorang anak. Tuhan dapat menegur

kita melalui seorang sahabat. Tuhan dapat mengingatkan kita melalui orang tua.

Tuhan dapat memakai seseorang yang pernah kita remehkan untuk mengubah hidup kita. Karena itu, jangan sampai

prasangka membuat kita kehilangan kesempatan untuk mendengarkan suara Tuhan.

Mazmur hari ini berkata: “Betapa kucintai Taurat-Mu! Aku merenungkannya sepanjang hari.” Orang

yang mencintai Sabda Tuhan akan belajar memiliki hati yang terbuka. Ia tidak merasa dirinya paling

benar.

Ia tidak merasa sudah mengetahui segala sesuatu. Ia mau mendengarkan. Ia mau belajar. Ia juga

mau menerima bahwa Tuhan dapat berbicara melalui siapa saja.

Sebaliknya, prasangka sering tumbuh dari kesombongan. Ketika kita merasa paling benar, kita sulit menerima orang lain. Ketika kita merasa

paling tahu, kita tidak lagi mau belajar.

Ketika kita sudah memberi label kepada seseorang, kita berhenti melihat kemungkinan baik dalam dirinya.

Saudari-saudaraku yang terkasih, Yesus ditolak oleh orang-orang sekampung-Nya. Bukan karena Yesus tidak membawa kebaikan.

Bukan karena Yesus tidak membawa keselamatan. Tetapi karena hati mereka sudah dipenuhi oleh

prasangka.

Mereka melihat Yesus hanya sebagai “anak Yusuf”. Mereka gagal melihat bahwa Allah sedang hadir di tengah mereka. Jangan sampai hal yang sama terjadi dalam hidup kita. Jangan sampai kita begitu sibuk menilai orang lain sehingga tidak mampu melihat karya Tuhan dalam dirinya.

Jangan sampai kita terlalu mengingat masa lalu seseorang sehingga tidak mampu melihat pertobatan dan

perubahan hidupnya.

Jangan sampai kita terlalu percaya pada prasangka kita sendiri sehingga menutup mata terhadap kebenaran.

Hari ini Tuhan mengajak kita untuk melihat lebih dalam. Bukan hanya dengan mata.

Tetapi dengan hati. Mata dapat melihat penampilan. Tetapi hati yang terbuka mampu melihat kebaikan. Mata dapat

melihat masa lalu seseorang.

Tetapi hati yang penuh kasih mampu melihat kemungkinan masa depannya.

Beberapa Pesan bagi kita:

Sebelum menilai seseorang, berhentilah sejenak. Sebelum memberi label, cobalah mendengarkan.

Sebelum menolak seseorang, berikanlah kesempatan. Karena kita tidak pernah mengetahui sepenuhnya

perjalanan hidup seseorang. Mungkin orang yang kita remehkan sedang berjuang menjadi lebih baik.

Mungkin orang yang kita abaikan sedang membawa pesan penting bagi hidup kita. Dan mungkin,

melalui orang yang tidak kita duga, Tuhan sedang mengetuk pintu hati kita.

Jangan biarkan prasangka menutup mata hati. Belajarlah melihat sesama sebagaimana Tuhan melihat mereka: dengan kasih,

harapan, dan kesempatan untuk berubah.

Pertanyaan Refleksi:

Apakah saya masih menyimpan prasangka terhadap seseorang sehingga saya sulit melihat kebaikan

dan perubahan dalam dirinya?

Doa Penutup

Tuhan Yesus yang penuh kasih, bukalah mata hati kami agar tidak mudah berprasangka. Ajarlah kami

untuk tidak menilai seseorang hanya dari masa lalunya, penampilannya, atau pendapat orang lain

tentang dirinya, tetapi melihat sesama dengan penuh kasih dan memberi kesempatan kepadanya untuk

berubah.

Semoga kami mampu mendengarkan suaraMu dalam diri setiap orang yang Engkau hadirkan

dalam hidup kami…Amin. (*)

Ikuti Berita POS-KUPANG.C0M Lainnya di GOOGLE NEWS

By admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *