, SANGATTA – Dampak kemarau ekstrem yang melanda Kabupaten Kutai Timur (Kutim) dalam beberapa bulan terakhir mulai memicu ancaman serius.
Kabupaten Kutai Timur adalah salah satu kabupaten di Provinsi Kalimantan Timur. Ibu kota kabupaten Kutai Timur adalah Sangatta.
Krisis air bersih, potensi gagal panen, hingga risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kini membayangi wilayah tersebut.
Menanggapi situasi darurat ini, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kutim bersama jajaran Forkopimda bergerak cepat melakukan langkah penanganan terpadu, baik secara teknis maupun spiritual.
Pemkab Kutim, pihak kepolisian, dan Kodim 0909/KTM kini memperketat pengawasan di lapangan untuk memastikan ketersediaan pasokan air warga sekaligus mencegah munculnya titik api.
Bupati Kutai Timur, Ardiansyah Sulaiman, menegaskan sanksi tegas bagi siapapun yang nekat melakukan pembakaran lahan dan memperparah situasi kemarau.
Ardiansyah Sulaiman adalah seorang politikus dari Partai Keadilan Sejahtera yang sekarang menjabat sebagai Bupati Kutai Timur periode 2025–2030.
“Aturan akan terus kita terapkan. Pak Kapolres sudah mewanti-wanti kepada masyarakat, apabila mereka melakukan hal-hal seperti itu (membakar lahan), mereka akan berhadapan dengan sanksi hukum yang berlaku,” tegas Ardiansyah, Minggu (30/8/2026).
Ardiansyah mengimbau seluruh elemen masyarakat hingga perusahaan swasta untuk tidak membersihkan lahan dengan cara dibakar. Pasalnya, vegetasi yang mengering dan angin kencang saat ini sangat rawan memicu karhutla meluas.
Selain fokus pada penegakan hukum, Pemkab Kutim juga menggalakkan sinergi lintas instansi guna menyalurkan bantuan air bersih bagi wilayah-wilayah yang mulai terdampak kekeringan, khususnya di kawasan Sangatta.
“Pemerintah tidak berdiam diri. Kolaborasi lintas instansi terus digalakkan untuk membantu warga yang mulai kesulitan air bersih. Kita telah berikhtiar secara teknis di lapangan, dan kemarin telah kita sempurnakan dengan doa,” ujarnya.
Upaya mitigasi bencana tersebut ditutup dengan pelaksanaan Salat Istisqa dan doa bersama di Lapangan Kantor Bupati Kutim pada Sabtu (29/8/2026).
Agenda tersebut diikuti oleh jajaran Forkopimda serta masyarakat setempat.
Ardiansyah menekankan pentingnya introspeksi diri dan menjaga kesadaran bersama di tengah ujian kekeringan yang melanda Kutim.
“Bisa jadi karena memang ini kelalaian kita, kesalahan kita yang mungkin tidak disadari. Kesempatan Istisqa ini menjadi momen untuk lebih banyak melantunkan istigfar dan memohon ampun kepada Allah, sehingga apa yang terhambat saat ini seperti turunnya hujan bisa dikabulkan oleh Allah SWT,” pungkasnya. (*)

