Ringkasan Berita:
- Tema renungan katolik “jangan biarkan prasangka menutup mata hati”.
- Renungan katolik disiapkan untuk hari biasa pekan XXII tahun A dengan warna liturgi hijau.
- Tema: Aku diutus menyampaikan kabar baik kepada orang-orang miskin. Tiada nabi yang dihargai di tempat asalnya.
- Bacaan hari Senin: 1Kor 2:1-5; Mzm 119:97.98.99. 100.101.102; Luk 4:16-30 dan BcO 1Tim 6:1-10.
Oleh; Pastor John Lewar SVD
, MAUMERE –Mari simak renungan katolik Senin 31 Agustus 2026.
Tema renungan katolik “jangan biarkan prasangka menutup mata hati”.
Renungan katolik disiapkan untuk hari biasa pekan XXII tahun A dengan warna liturgi hijau.
Renungan katolik ada dibagian akhir artikel ini.
Tema: Aku diutus menyampaikan kabar baik kepada orang-orang miskin. Tiada nabi yang dihargai di tempat asalnya.
Adapun bacaan liturgi Katolik hari Senin, 31 Agustus 2026 adalah sebagai berikut:
Bacaan hari Senin: 1Kor 2:1-5; Mzm 119:97.98.99. 100.101.102; Luk 4:16-30 dan BcO 1Tim 6:1-10.
Bacaan Pertama : 1Kor 2:1-5
“Aku mewartakan kepadamu kesaksian Kristus yang tersalib”
Saudara-saudara,ketika aku datang kepadamu, aku tidak datang dengan kata-kata yang indah atau dengan hikmat untuk mewartakan kesaksian Allah kepada kalian. Sebab aku telah memutuskan untuk tidak mengetahui apa pun di antaramu selain Yesus Kristus, Dia yang disalibkan. Aku pun telah datang kepadamu dalam kelemahan, dengan sangat takut dan gentar.
Baik ajaran maupun pemberitaanku tidak kusampaikan dengan kata-kata hikmat yang meyakinkan, tetapi dengan keyakinan akan kekuatan Roh,supaya imanmu jangan bergantung pada hikmat manusia,melainkan pada kekuatan Allah.
Demikianlah Sabda Tuhan.
U. Syukur Kepada Allah.
Mazmur Tanggapan: Mzm 119:97.98.99.100.101.102
Ref: Betapa besar cintaku kepada Hukum-Mu, ya Tuhan.
Betapa kucintai Taurat-Mu! Aku merenungkannya sepanjang hari.
Perintah-Mu membuat aku lebih bijaksana dari pada musuh-musuhku, sebab selama-lamanya perintah itu ada padaku.
Aku lebih berakal budi daripada semua pengajarku, sebab peringatan-peringatan-Mu kurenungkan selalu.
Aku lebih mengerti dari pada orang-orang tua,sebab aku memegang titah-titah-Mu.
Terhadap segala jalan kejahatan aku menahan kakiku,supaya aku berpegang pada firman-Mu.
Aku tidak menyimpang dari hukum-hukum-Mu,sebab Engkaulah yang mengajar aku.
Bait Pengantar Injil: Luk 4:18
Roh Tuhan menyertai aku; Aku diutus Tuhan mewartakan kabar baik kepada orang-orang miskin.
“Aku diutus menyampaikan kabar baik kepada orang-orang miskin. Tiada nabi yang dihargai di tempat asalnya.”
Sekali peristiwa datanglah Yesus di Nazaret, tempat Ia dibesarkan.Seperti biasa, pada hari Sabat Ia masuk ke rumah ibadat.Yesus berdiri hendak membacakan Kitab Suci. Maka diberikan kepada-Nya kitab nabi Yesaya.
Yesus membuka kitab itu dan menemukan ayat-ayat berikut, “Roh Tuhan ada pada-Ku. Sebab Aku diurapi-Nya untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang miskin. Dan Aku diutus-Nya memberitakan pembebasan kepada orang-orang tawanan, penglihatan kepada orang-orang buta, serta membebaskan orang-orang yang tertindas;
Aku diutus-Nya memberitakan bahwa tahun rahmat Tuhan telah datang.”Kemudian Yesus menutup kitab itu dan mengembalikannya kepada pejabat; lalu Ia duduk dan mata semua orang dalam rumah ibadat itu tertuju kepada-Nya.
Kemudian Yesus mulai mengajar mereka, kata-Nya, “Pada hari ini genaplah ayat-ayat Kitab Suci itu pada saat kalian mendengarnya.” Semua orang membenarkan Yesus. Mereka heran akan kata-kata indah yang diucapkan-Nya.
Lalu kata mereka, “Bukankah Dia anak Yusuf?” Yesus berkata, “Tentu kalian akan mengatakan pepatah ini kepada-Ku,’Hai Tabib, sembuhkanlah dirimu sendiri.Perbuatlah di sini, di tempat asal-Mu ini, segala yang kami dengar telah terjadi di Kapernaum!”
Yesus berkata lagi, “Aku berkata kepadamu:Sungguh, tiada nabi yang dihargai di tempat asalnya.Aku berkata kepadamu, dan kata-Ku ini benar, ‘Pada zaman Elia terdapat banyak wanita janda di Israel ketika langit tertutup selama tiga tahun dan enam bulan dan ketika bahaya kelaparan yang hebat menimpa seluruh negeri.
Tetapi Elia diutus bukan kepada salah seorang dari mereka,melainkan kepada seorang wanita janda di Sarfat, di tanah Sidon. Dan pada zaman nabi Elisa banyak orang kusta di Israel tetapi tiada seorang pun dari mereka yang ditahirkan, selain Naaman, orang Siria itu.”
Mendengar itu sangat marahlah semua orang di rumah ibadat itu. Mereka bangkit lalu menghalau Yesus ke luar kota, dan membawa Dia ke tebing gunung tempat kota itu terletak, untuk melemparkan Dia dari tebing itu.
Tetapi Yesus berjalan lewat tengah-tengah mereka, lalu pergi.
Demikianlah Injil Tuhan.
U. Terpujilah Kristus.
Renungan Harian Katolik
“Jangan Biarkan Prasangka Menutup Mata Hati”
Saudari-saudaraku yang terkasih dalam Kristus,
Hari ini Injil Lukas membawa kita ke Nazaret, kampung halaman Yesus. Yesus datang ke rumah
ibadat dan membaca Kitab Suci. Semua orang mendengarkan-Nya. Kata-kata-Nya penuh kuasa dan
menyentuh hati. Namun, kekaguman itu tidak berlangsung lama. Orang-orang mulai berkata:
“Bukankah Ia ini anak Yusuf?” Mereka mengenal Yesus. Mereka tahu keluarga-Nya. Mereka
mengetahui asal-usul-Nya. Tetapi justru karena merasa sudah mengenal Yesus, mereka tidak mampu
melihat siapa Yesus sebenarnya. Mereka melihat Yesus dengan mata prasangka. Mereka tidak
membuka hati untuk menerima kemungkinan bahwa Allah sedang bekerja melalui seseorang yang
tumbuh di tengah-tengah mereka.
Inilah bahaya prasangka. Prasangka membuat kita melihat seseorang bukan sebagaimana adanya,
tetapi sebagaimana yang sudah kita putuskan dalam pikiran kita. Kita sering berkata: “Dia memang
begitu.” “Orang itu tidak mungkin berubah.” “Saya sudah tahu karakternya.” “Jangan percaya
kepadanya.” Tanpa sadar, kita sudah menutup pintu hati sebelum benar-benar mendengarkan.
Situasi seperti ini sangat dekat dengan kehidupan kita saat ini. Di media sosial, seseorang dapat
langsung dinilai hanya berdasarkan satu foto, satu komentar, atau satu potongan video. Orang begitu
mudah memberi label tanpa mengetahui seluruh cerita. Di dalam keluarga, kadang-kadang kita terus
mengingat kesalahan masa lalu seseorang, sehingga sulit melihat perubahan yang sedang terjadi. Di
sekolah atau tempat kerja, seseorang bisa diremehkan karena latar belakang, penampilan, kemampuan,
atau status sosialnya. Di tengah masyarakat, kita mudah membagi orang menjadi kelompok “kami”
dan “mereka”. Prasangka membuat kita kehilangan kemampuan untuk melihat manusia dengan hati.
Padahal setiap manusia mempunyai kesempatan untuk berubah. Setiap orang mempunyai cerita. Setiap
orang mempunyai luka yang mungkin tidak kita ketahui. Dan setiap orang tetap memiliki martabat
sebagai anak Allah.
Dalam bacaan pertama, Santo Paulus berkata bahwa ia tidak datang dengan kata-kata yang indah atau
hikmat manusia. Ia tidak ingin orang terpukau oleh dirinya. Paulus hanya ingin menunjukkan Yesus
Kristus. Ini menjadi pengingat bagi kita bahwa iman tidak dibangun atas penampilan manusia,
popularitas, kekuasaan, atau kepandaian berbicara. Iman dibangun atas kekuatan Allah. Kadang
kadang kita terlalu mudah menilai seseorang dari apa yang terlihat di luar. Kita kagum kepada orang
yang terkenal. Kita mudah percaya kepada orang yang memiliki jabatan. Kita menghormati orang yang
pandai berbicara. Tetapi kita meremehkan suara orang kecil dan sederhana. Padahal Tuhan sering
memilih jalan yang tidak kita duga. Tuhan dapat berbicara melalui seorang anak. Tuhan dapat menegur
kita melalui seorang sahabat. Tuhan dapat mengingatkan kita melalui orang tua. Tuhan dapat memakai
seseorang yang pernah kita remehkan untuk mengubah hidup kita. Karena itu, jangan sampai
prasangka membuat kita kehilangan kesempatan untuk mendengarkan suara Tuhan.
Mazmur hari ini berkata: “Betapa kucintai Taurat-Mu! Aku merenungkannya sepanjang hari.” Orang
yang mencintai Sabda Tuhan akan belajar memiliki hati yang terbuka. Ia tidak merasa dirinya paling
benar. Ia tidak merasa sudah mengetahui segala sesuatu. Ia mau mendengarkan. Ia mau belajar. Ia juga
mau menerima bahwa Tuhan dapat berbicara melalui siapa saja. Sebaliknya, prasangka sering tumbuh
dari kesombongan. Ketika kita merasa paling benar, kita sulit menerima orang lain. Ketika kita merasa
paling tahu, kita tidak lagi mau belajar. Ketika kita sudah memberi label kepada seseorang, kita
berhenti melihat kemungkinan baik dalam dirinya.
Saudari-saudaraku yang terkasih,
Yesus ditolak oleh orang-orang sekampung-Nya. Bukan karena Yesus tidak membawa kebaikan.
Bukan karena Yesus tidak membawa keselamatan. Tetapi karena hati mereka sudah dipenuhi oleh
prasangka. Mereka melihat Yesus hanya sebagai “anak Yusuf”. Mereka gagal melihat bahwa Allah
sedang hadir di tengah mereka. Jangan sampai hal yang sama terjadi dalam hidup kita. Jangan sampai
kita begitu sibuk menilai orang lain sehingga tidak mampu melihat karya Tuhan dalam dirinya. Jangan
sampai kita terlalu mengingat masa lalu seseorang sehingga tidak mampu melihat pertobatan dan
perubahan hidupnya. Jangan sampai kita terlalu percaya pada prasangka kita sendiri sehingga menutup
mata terhadap kebenaran.
Hari ini Tuhan mengajak kita untuk melihat lebih dalam. Bukan hanya dengan mata. Tetapi dengan
hati. Mata dapat melihat penampilan. Tetapi hati yang terbuka mampu melihat kebaikan. Mata dapat
melihat masa lalu seseorang. Tetapi hati yang penuh kasih mampu melihat kemungkinan masa
depannya.
Beberapa Pesan bagi kita:
Sebelum menilai seseorang, berhentilah sejenak. Sebelum memberi label, cobalah mendengarkan.
Sebelum menolak seseorang, berikanlah kesempatan. Karena kita tidak pernah mengetahui sepenuhnya
perjalanan hidup seseorang. Mungkin orang yang kita remehkan sedang berjuang menjadi lebih baik.
Mungkin orang yang kita abaikan sedang membawa pesan penting bagi hidup kita. Dan mungkin,
melalui orang yang tidak kita duga, Tuhan sedang mengetuk pintu hati kita. Jangan biarkan prasangka
menutup mata hati. Belajarlah melihat sesama sebagaimana Tuhan melihat mereka: dengan kasih,
harapan, dan kesempatan untuk berubah.
Pertanyaan Refleksi:
Apakah saya masih menyimpan prasangka terhadap seseorang sehingga saya sulit melihat kebaikan
dan perubahan dalam dirinya?
Doa Penutup
Tuhan Yesus yang penuh kasih, bukalah mata hati kami agar tidak mudah berprasangka. Ajarlah kami
untuk tidak menilai seseorang hanya dari masa lalunya, penampilannya, atau pendapat orang lain
tentang dirinya, tetapi melihat sesama dengan penuh kasih dan memberi kesempatan kepadanya untuk
berubah. Semoga kami mampu mendengarkan suaraMu dalam diri setiap orang yang Engkau hadirkan
dalam hidup kami…Amin. (sumber: the katolik.com/iman katolik.or.id/adiutami.com/kgg).
Berita Lainnya di Google News

